Rabu, 06 April 2011

. . . . .

Kami adalah bangsa yang berTuhan. Satu Tuhan. Negeri kami bukan tempat orang-orang yang tidak beragama, tidak berTuhan. Kami percaya bahwa ada sebuah kuasa yang Maha Tinggi diatas segala yang ada di dunia ini.
Kami adalah bangsa yang menjunjung tinggi kemanusiaan. Sebuah negara yang beradab. Kami bukan barbar. Kami percaya bahwa seburuk apapun seorang manusia, dia tetaplah manusia, dan selayaknyalah diperlakukan sebagai manusia.
Memang, banyak sekali perbedaan diantara kami. Berbagai suku, agama, bahasa, dan budaya ada di negeri kami. Tapi, jangan kau pikir bisa memecahbelah kami begitu saja. Kami punya semangat persatuan yang luar biasa besar untuk melawannya. Walaupun kami berbeda-beda, tersebar dari Sabang sampai Merauke, tapi kami tetap satu, INDONESIA.
Kami bangsa yang menjunjung tinggi kekeluargaan dan gotong royong dalam keseharian kami. Kami selalu mengedepankan perundingan dan diplomasi -begitu kalian menyebutnya- dalam menyelesaikan masalah dan disana semua pihak boleh mengungkapkan pendapat atau solusi masing-masing. Dalam bahasa kami, musyawarah untuk mencapai mufakat. Bukan dengan tindakan otoriter, pemaksaan, ataupun perang. Kami menghindari itu, sebisa mungkin.
Kami bangsa yang menjunjung keadilan. Keadilan itu bukan hanya milik penguasa, tapi milik kami semua, seluruh rakyat Indonesia. Bukankan makna keadilan itu adalah semua mendapatkan haknya sesuai porsinya masing-masing? Bukan mengambil hak orang lain untuk disimpan sendiri.
Itu DULU…
Dimana kami semua masih memahami apa makna dari dasar negara kami, PANCASILA. Bagaimana dengan sekarang?
Ketimpangan sosial dimana-mana. Keadilan dan hukum diperjualbelikan. Penguasa semakin lupa dengan rakyatnya. Rakyat juga sama saja, hanya bisa menyalahkan penguasa, tanpa pernah berkaca pada dirinya sendiri. Tanpa pernah pula memberikan solusi. Semakin egois. Lunturlah rasa kekeluargaan. Lunturlah gotong royong. Luntur sudah kemanusiaan. Luntur pulalah keadilan. Dan pada akhirnya lunturlah PERSATUAN.
Hey kawan. Mari berbenah.
Mulailah dari diri kita sendiri.
Mari belajar, untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan.
Untuk lebih memanusiakan manusia.
Selalu ingat akan semangat persatuan dan tidak mudah dipecahbelah.
Mari kita belajar,
untuk menanamkan rasa kekeluargaan dan gotong royong dalam jiwa kita, tentunya dengan menempatkannya pada tempat yang benar.
Untuk selalu memikirkan kepentingan bersama, bukan mendahulukan kepentingan pribadi atau golongan tertentu saja.
Untuk tidak mengedepankan cara-cara anarkis sebagai penyelesaian masalah.
Untuk selalu bertindak adil bagi diri kita sendiri dan orang lain di lingkungan kita.
No more egoism.
No more individualism.
Be Better. Start from ourself!

-wznipradana-

0 komentar:

Poskan Komentar